KEDIRI, mediainvestigasimerahputih.online – Dari dapur sederhana di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, lahir sebuah produk camilan yang kini dikenal luas hingga mancanegara. Adalah Siti Fatimah (56), pelaku UMKM yang sukses mengembangkan usaha Jamur Crispy Pojok sejak 2012.
Selama lebih dari satu dekade, Siti konsisten mengembangkan usahanya di tengah berbagai tantangan, mulai dari fluktuasi harga bahan baku hingga biaya produksi yang terus meningkat.
“Belasan tahun memang bukan waktu yang sebentar. Tapi saya tetap bertahan karena ini bukan sekadar usaha, melainkan sumber penghidupan keluarga dan warga sekitar,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).
Awalnya, usaha yang dirintis hanya berfokus pada olahan jamur crispy. Namun kini, produknya semakin beragam, mulai dari usus crispy, jamur kuping, hingga keripik pare.
Meski demikian, jamur crispy dan usus crispy tetap menjadi produk unggulan dengan permintaan tertinggi. Dalam kondisi normal, Siti mampu mengolah hingga 50 kilogram jamur segar per hari, bahkan meningkat hingga ratusan kilogram saat permintaan tinggi.
Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, Siti menerapkan strategi kemasan yang variatif, mulai dari ukuran kecil hingga besar sesuai kebutuhan konsumen.
Produk Jamur Crispy Pojok kini telah dipasarkan di berbagai toko modern dan pusat oleh-oleh di Kediri, serta aktif dipromosikan melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok.
Tak hanya pasar lokal, produk ini juga telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, termasuk Kalimantan dan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Bahkan, Siti mengaku pernah menerima pesanan dalam jumlah besar dari luar negeri, seperti Hong Kong dan Taiwan.
“Alhamdulillah, pernah kirim ke luar negeri. Itu jadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya,” katanya.
Di tengah kenaikan harga minyak goreng dan bahan kemasan, Siti memilih untuk tidak menaikkan harga jual demi menjaga loyalitas pelanggan.
Saat ini, produk jamur crispy dan keripik pare dijual seharga Rp75.000 per kilogram, sedangkan usus crispy dan jamur kuping Rp80.000 per kilogram.
Menurut Siti, kualitas produk menjadi kunci utama keberhasilan. Ia mengandalkan teknik pengolahan dan pengemasan khusus agar produknya tetap renyah dan tahan hingga empat bulan.
Usaha ini juga mendapat dukungan dari pemerintah desa setempat serta apresiasi dari konsumen.
Salah satunya Danang, warga Kota Kediri, yang mengaku tertarik setelah melihat promosi di media sosial.
“Awalnya saya kira produk luar daerah, ternyata buatan warga lokal. Ini luar biasa,” ungkapnya.
Kisah Siti Fatimah menjadi bukti bahwa UMKM lokal mampu berkembang dan bersaing hingga tingkat internasional dengan ketekunan, inovasi, dan semangat pantang menyerah.

0 Komentar