JAKARTA, mediainvestigasimerahputih.online – Penelitian terbaru mengungkap bahwa keberadaan nanoplastik dapat meningkatkan penyerapan logam berat beracun pada tanaman selada. Studi dari Texas A&M University, Amerika Serikat, menemukan bahwa selada yang terpapar nanoplastik dan kadmium dapat menyerap hingga 61 persen logam beracun ke dalam daunnya.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan tanaman selada yang hanya terpapar kadmium tanpa adanya nanoplastik.

Pemimpin penelitian, Xingmao Samuel Ma, mengatakan temuan ini menunjukkan pentingnya mengevaluasi kembali batas aman kandungan kadmium di tanah pertanian maupun media tanam.

Eksperimen Menggunakan Sistem Hidroponik

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Journal of Agricultural and Food Chemistry ini dilakukan menggunakan sistem hidroponik sebagai model laboratorium yang terkontrol.

Tanaman selada dipilih sebagai objek penelitian untuk melihat bagaimana interaksi antara logam berat dan nanoplastik memengaruhi tanaman dalam kondisi paparan yang berbeda.

Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan penyerapan kadmium berkaitan dengan respons stres yang dialami tanaman.

Nanoplastik Picu Stres Oksidatif

Dalam kondisi normal, tanaman yang terpapar kadmium biasanya akan mengembangkan lebih banyak cabang akar untuk mencari area tanah yang lebih bersih. Kadmium juga cenderung disimpan di akar agar tidak menyebar ke daun yang dapat dimakan.

Namun ketika nanoplastik hadir bersamaan, tanaman mengalami stres oksidatif yang mengganggu mekanisme pertahanan tersebut.

Stres oksidatif ini mirip dengan proses peradangan pada tubuh manusia. Ketika terjadi bersamaan dengan respons stres alami tanaman, energi tanaman terbagi sehingga sistem pertahanannya melemah.

Akibatnya, kadmium lebih mudah bergerak dari akar menuju jaringan daun yang biasa dikonsumsi manusia.

Nanoplastik Juga Lebih Banyak Menumpuk

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa nanoplastik justru lebih banyak terakumulasi di daun ketika tanaman juga terpapar kadmium.

Konsentrasi nanoplastik di daun bahkan tercatat sekitar 67 persen lebih tinggi dibandingkan tanaman yang hanya terpapar nanoplastik saja.

Para peneliti menduga hal ini berkaitan dengan peningkatan percabangan akar akibat paparan kadmium. Nanoplastik sendiri tidak diserap melalui mekanisme aktif tanaman, melainkan masuk secara pasif melalui celah kecil di permukaan akar, terutama pada ujung akar dan titik percabangan.

Potensi Risiko bagi Manusia

Temuan ini menunjukkan bahwa interaksi antara nanoplastik dan logam berat dalam sistem pertanian dapat membuat kontaminan tersebut menjadi lebih berbahaya.

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada tanaman, tetapi juga berpotensi memengaruhi hewan maupun manusia yang mengonsumsi sayuran tersebut.

Kadmium sendiri dikenal sebagai salah satu logam berat yang sangat beracun. Zat ini dapat masuk ke sistem pertanian melalui berbagai sumber seperti air, pupuk, hingga material pipa.

Sementara itu, nanoplastik merupakan partikel plastik sintetis berukuran sangat kecil, biasanya di bawah 1.000 nanometer.

Melalui penelitian ini, para ilmuwan berharap dapat memahami lebih dalam bagaimana mikroplastik dan nanoplastik berinteraksi dengan kontaminan lain di lingkungan pertanian.

Pengetahuan tersebut diharapkan dapat membantu merumuskan strategi baru untuk mengurangi risiko kontaminasi dalam produksi pangan di masa depan.

\

Red//investigasimerahputih