KOTA KEDIRI,mediainvestigasimerahputih.online – Menjelang usia emas atau 50 tahun, Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri menggelar rangkaian puncak Dies Natalis ke-49 dengan menggabungkan pemberian penghargaan kepada sivitas akademika serta pagelaran seni budaya wayang kulit. Kegiatan tersebut menjadi wujud komitmen perguruan tinggi dalam mengembangkan kualitas akademik tanpa mengesampingkan pelestarian budaya bangsa.

Dalam peringatan tersebut, kampus memberikan apresiasi kepada dosen, tenaga kependidikan, program studi, maupun unit kerja yang dinilai memiliki kinerja dan kontribusi positif terhadap kemajuan institusi. Penghargaan tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Selain agenda akademik, perayaan juga dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit yang menghadirkan dalang Ki Sun Gondrong dengan lakon "Wahyu Godo Inten". Pertunjukan seni tradisional tersebut menjadi bagian dari upaya kampus dalam memperkenalkan sekaligus melestarikan warisan budaya Indonesia kepada generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi.

Pihak kampus menilai bahwa wayang kulit tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga mengandung nilai-nilai moral, kepemimpinan, serta semangat perjuangan yang relevan dengan dunia pendidikan. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga memahami pentingnya menjaga identitas budaya nasional.

Momentum Dies Natalis ke-49 menjadi langkah awal UNP Kediri dalam menyongsong usia emas pada tahun mendatang. Dengan mengusung semangat inovasi, prestasi, dan pelestarian budaya, kampus berharap mampu terus mencetak lulusan yang unggul, berkarakter, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. 


Berita ini disusun berdasarkan pokok informasi dari pemberitaan Ngopibareng.id dan didukung informasi dari ANTARA Jatim, kemudian dikembangkan oleh Redaksi Media Investigasi Merah Putih dengan penyusunan, sudut pandang, dan narasi jurnalistik yang berbeda tanpa menyalin isi berita sumber secara utuh.