KEDIRI | mediainvestigasimerahputih.online – Fenomena bediding yang melanda wilayah Kediri pada musim kemarau tahun ini tidak hanya membawa udara lebih dingin, tetapi juga memukul sektor budidaya ikan hias. Seorang peternak ikan cupang di Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, dilaporkan mengalami kerugian hingga Rp50 juta setelah sekitar 10 ribu ekor ikan cupang mati akibat penurunan suhu yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Peternak bernama Andriyansah mengaku suhu udara yang turun drastis menjadi penyebab utama tingginya angka kematian ikan. Pada pagi hari, suhu air di kolam budidayanya berkisar 21–22 derajat Celsius, jauh di bawah suhu ideal bagi pertumbuhan ikan cupang. Kondisi tersebut mengganggu metabolisme ikan, menyebabkan nafsu makan menurun, tubuh melemah, hingga akhirnya mati.

Menurutnya, tidak ditemukan indikasi serangan penyakit pada ikan yang dipelihara. Faktor cuaca menjadi penyebab dominan, terlebih fenomena bediding tahun ini membuat suhu malam hingga pagi terasa lebih dingin dibanding biasanya. BPBD Kota Kediri sebelumnya juga menjelaskan bahwa bediding merupakan fenomena alam yang umum terjadi saat musim kemarau akibat hembusan angin timuran dari Australia yang membawa massa udara dingin dan kering.

Untuk mengurangi kerugian yang lebih besar, Andriyansah mulai melakukan berbagai upaya, mulai dari mengurangi jumlah ikan yang dipelihara hingga memodifikasi kolam agar suhu air lebih stabil. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga kelangsungan usaha budidaya yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarganya.

Fenomena cuaca ekstrem sebenarnya bukan kali pertama berdampak pada sentra budidaya ikan cupang di Ketami. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan suhu yang terlalu panas maupun terlalu dingin berulang kali menyebabkan penurunan produksi, gangguan proses pembibitan (breeding), hingga meningkatnya angka kematian ikan.

Sentra budidaya ikan cupang di Kelurahan Ketami selama ini dikenal sebagai salah satu penghasil ikan cupang di Kota Kediri yang memasok berbagai daerah. Kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan tersendiri bagi para peternak yang sangat bergantung pada kestabilan suhu air untuk menjaga kualitas dan produktivitas budidaya.

Redaksi
mediainvestigasimerahputih.online