Banyuwangi, mediainvestigasimerahputih.online – Ribuan masyarakat dan wisatawan memadati Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, untuk menyaksikan kembali ritual adat Kebo-Keboan yang telah menjadi salah satu warisan budaya khas masyarakat agraris setempat. Tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini kembali digelar sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus doa agar tanah tetap subur dan hasil pertanian semakin melimpah.

Rangkaian prosesi diawali dengan kenduri desa yang diikuti warga secara bersama-sama. Hidangan khas berupa tumpeng dan Pecel Pithik disajikan sebagai simbol kebersamaan serta rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki yang diterima masyarakat. Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan ritual ider bumi, yakni arak-arakan mengelilingi desa menuju empat penjuru mata angin sebagai simbol harapan akan keselamatan dan keberkahan bagi seluruh warga.

Dalam tradisi tersebut, puluhan warga berdandan menyerupai kerbau dengan tubuh yang dilumuri jelaga hingga berwarna hitam, lengkap dengan tanduk buatan serta lonceng di tangan dan kaki. Mereka kemudian berjalan, membajak sawah secara simbolis, berguling di lumpur, hingga memperagakan perilaku layaknya seekor kerbau yang menjadi sahabat para petani dalam mengolah lahan pertanian.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan bahwa Kebo-Keboan bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan warisan leluhur yang mencerminkan kuatnya karakter masyarakat agraris Banyuwangi. Menurutnya, tradisi tersebut mengandung nilai gotong royong, kerja keras, disiplin, serta kebersamaan yang hingga kini masih dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Alasmalang.

Selain memiliki nilai budaya yang tinggi, ritual Kebo-Keboan juga menjadi daya tarik wisata yang mampu mendatangkan ribuan pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara. Ramainya pengunjung memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar, terutama para pelaku usaha kecil, pedagang makanan, minuman, hingga penyedia jasa lainnya yang merasakan peningkatan pendapatan selama acara berlangsung.

Berdasarkan catatan sejarah, tradisi Kebo-Keboan telah ada sejak abad ke-18 dan dipercaya berawal dari kisah Buyut Karti yang memperoleh petunjuk untuk menggelar ritual bersih desa dengan simbolisasi kerbau. Hingga kini, tradisi tersebut tetap dilestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Osing sekaligus menjadi salah satu agenda budaya unggulan Kabupaten Banyuwangi yang terus menarik perhatian wisatawan setiap tahunnya.

Keberlangsungan ritual Kebo-Keboan menunjukkan bahwa modernisasi tidak selalu mengikis budaya lokal. Sebaliknya, dengan dukungan masyarakat, pemerintah daerah, tokoh adat, dan generasi muda, tradisi tersebut tetap hidup sebagai warisan budaya yang memperkuat identitas daerah sekaligus memperkaya khazanah budaya Indonesia.