Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan bahwa hingga saat ini tidak ada pertemuan antara Teheran dan Direktur Jenderal IAEA terkait rencana inspeksi ulang fasilitas nuklir tersebut. Iran juga menegaskan tidak memiliki rencana untuk membuka akses bagi lembaga pengawas PBB itu ke situs-situs yang disebut telah terdampak serangan militer.
Pernyataan ini sekaligus mempertegas posisi Iran yang menolak klaim dari pihak Amerika Serikat yang menyebut adanya kesepakatan baru terkait pembukaan akses inspeksi nuklir internasional.
Sebelumnya, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui platform Truth Social menyatakan bahwa Iran akan menerima inspeksi internasional sebagai bagian dari upaya memastikan apa yang ia sebut sebagai “kejujuran nuklir” dalam jangka panjang. Trump bahkan mengklaim bahwa pengawasan tersebut akan diperketat guna menjamin Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.
Senada dengan itu, Wakil Presiden AS JD Vance juga menyebut bahwa Iran telah menyetujui kembalinya pemeriksa nuklir PBB ke wilayahnya. Ia menggambarkan langkah tersebut sebagai perkembangan penting dalam upaya pengendalian program nuklir Iran.
Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Teheran. Kantor berita Fars yang mengutip sumber internal pemerintah Iran menyatakan bahwa tidak ada kesepakatan maupun pembahasan mengenai kembalinya inspeksi IAEA dalam perundingan yang berlangsung di Swiss. Bahkan, pernyataan tersebut disebut sebagai informasi yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Iran menegaskan bahwa program nuklirnya tetap berada dalam kerangka kedaulatan nasional dan menolak berbagai tekanan eksternal yang dianggap mencampuri urusan dalam negeri. Sikap ini mempertegas ketegangan diplomatik yang kembali mengemuka antara Teheran dan Washington terkait isu nuklir yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Di sisi lain, Amerika Serikat tetap bersikeras bahwa pengawasan internasional diperlukan untuk memastikan transparansi penuh terhadap program nuklir Iran. Namun perbedaan narasi antara kedua negara menunjukkan bahwa kesepakatan konkret masih jauh dari tercapai.
Situasi ini kembali memunculkan kekhawatiran komunitas internasional terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama di tengah meningkatnya ketegangan politik dan militer antara pihak-pihak yang terlibat.
Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai langkah lanjutan dari IAEA maupun mediasi internasional terkait akses inspeksi ke fasilitas nuklir Iran yang dipersengketakan.

0 Komentar